29 Juli 2010

Cerita Geje Antara Aku dan Uruha part 1 [cerita fiksi]


Sakit bukan karena pedang yang menghujam punggungku dan menembus jantungku. Meskipun darah hangat ini mengalir di antara luka yang menganga. Walaupun detak kehidupanku semakin tak terdengar. Dan napasku yang perlahan molai sesak dan tercekat. Bukan pedang sang samurai yang membunuhku. Tapi cintaku yang mengambil alih hidupko, hatimu yang mencabut nyawaku.


Ako tak tahu berapa detik lagi aku akan bertahan. Kesakitan ini menyiksaku. Sekali lagi kukatakan, bukan jantungku, tapi hatiku, ia remuk, terpecah menjadi keping-keping yang tak dapat disatukan lagi. Dan takkan ada yang bisa sembuhkannya.


Air tumpah dari langit. Ako tak sanggup untuk sekedar berdiri. Kesakitan menguasaiku. Aku terkapar di tengah hujan. Titik-titik air menetes ke dadaku. Luruh bersama darahku. Genangan air pun perlahan berubah warna. Semerah naga.


Aku menangis tertahan. Darah keluar dari mulutku. Tak adakah yang peduli padaku? Hujan semakin deras, hatiku semakin sakit, lukaku semakin nyeri. Tenagaku habis, segalanya terasa berputar, kesadaranku hampir menghilang. Tapi aku menangkap bayangan seorang lelaki. Pandanganku mengabur. Gelap. . .


Kubuka mataku. Pedang itu sudah tak menancap lagi di tubuhku. Kesadaranku kembali tapi tak bisa sepenuhnya. Aku pingsan di pangkuan lelaki ini. Ah, Uru. . . Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di upacara pernikahannya? Susah payah aku melawan kesakitanku. Mencoba berkata sesuatu padanya. Tapi Uru menempelkan telonjoknya ke bibirku. Dia mencoba menyelamatkan nyawaku. Menghentikan darah yang terus mengalir dari lukaku.

"Tak ada yang bisa kau lakukan Uru," bisikku perlahan.
"Aku tak akan bertahan lebih lama."
"Aku ingin mati di pelukanmu."

Air mata Uru menetes perlahan.
"Maaf Kazuha.. . Semua salahku, melibatkanmu dalam hidupku."
"Sampai kapanpun aku takkan maafkan tindakan ayahku ini."


Aku mengusap pipi lembut Uruha. jemariku meninggalkan warna merah di pipinya.

"Aishiteru Kazuha.." kata Uruha


Uruha mendekatkan wajahnya ke bibirku. tak peduli darah yang mengalir dari mulutku. Seketika bibir kami bertemu, aku semakin pucat. Pandanganku kembali mengabur.


"Aku takkan menikah dengan siapapun." kata Uru

"Bahkan ketika nanti aku mati?" tanyaku

"Tentu saja, aku mencintaimu Kazuha.." kata Uru lagi

"Surga akan mengabadikan cinta kita, aku akan menunggumu disana" kataku terengah
"Aishiteru Uruha...." aku mengecup pipinya lemah..


Seketika Uruha memelukku, mengusap rambutku. darah semakin banyak keluar dari mulutku. Dadaku semakin nyeri. Tapi hatiku tak kesakitan lagi. Aku seketika terpejam di pelokan Uruha. Malaikat telah menjemputku menuju keabadian yang kekal.


Aku telah pergi dari dunia ini. tak ada kesakitan itu lagi. Kini tubuhku seringan kapas. Melayang-layang menyuduri hujan. aku melihat Uruha menangis tertahan.Masuh memeluk jasadku. dia basah dan kotor karena darah dari lukaku yang mengalir. aku tersenyum. Uruha.. Inilah yang terbaik untuk kita.

Keesokan hari, aku melihat Uruha termenung di samping tempat peristirahatanku yang terakhir. Ia meletakkan mawar putih kesukaamku di atas pusaraku.

"Kita akan bertemu di surga kazuha.." kata Uruha pelan.


Aku tak tega melihat Uruha sangat bersedih. aku menampakkan diriku, menghampiri Uruha. kusentuh bahunya perlahan. Ia menoleh..

"Kkazuha?" kata Uru "Kkau?"

"Ini rohku Uru, kau mengerti, tak ada yang bisa hidup kembali." kataku sambil tersenyum.
" Uru, lanjutkan hari-harimu tanpa aku, jagan pernah menyimpan dendam pada ayahmu. Kau ingin aku tenang di surga kan?" kataku

"Iyaa.." Kata Uru tak mampu menolak.


Aku duduk di sebelah Uruha, kemudian memeluknya. air mata Uruha jatuh.

"Jangan menangis Uru.. Aku ingin kau merajut senyum untukku, melukis pelangi agar aku bisa menitinya ke langit.." kataku


Aku mengusap air matanya, mencium pipinya lembut.

"Baiklah, apaun kulakukan untukmu, ku penuhi permintaanmu." janji Uruha

"Uru.. lihatlah pelangi itu.. Itu adalah tanda jika aku bahagia, jadi kau juga harus bahagia.." ujarku


Uruha semakin erat memeluk rohku. uru begitu dingin. tapi kemudian hangat perlahan kembali hadir ke dalam tubuhnya. dalam rengkuhan dadanya yang bidang dan tangannya yang kukuh.. aku pasti akan merindukan kehangatan ini.

"Uru,aku harus pergi sekarang.. Pulanglah Uru.. Aku akan menjadi malaikat penjagamu" aku melepas pelukan Uruha.

Uruha tersenyum manis sekali.. Dia mengecup keningku..

"Kita bahagia walau dunia kita berbeda.." kata Uruha


Aku tersenyum, kemudian menghilang. Kembali ke dunia baruku. menjaga Uruha sekarang dan untuk selamanya......



To be continued....

Begitulah.. Hasil dari pemikiran saya yang lagi depresi..
Maaf kalo ceritanya kagak yaoi.. Hehehehe
Maaf juga,tokoh ceweknya saya sendiri..

cerita ini dibuat oleh teman saya, Kazuha Reika 'Rosita'.
komen yang positif ditunggu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Godean City, Jogjakarta, Indonesia
Kita tidak akan bisa bila kita tidak mencoba, kayak blogger ini. Awalnya kupikir sulit, tapi setelah dicoba ternyata lumayan mudah dan menyenangkan.