16 September 2010

Cerita Geje Antara Aku dan Uruha ["Uruha Sad Love Story" part 2]

Moshi moshi ^0^
Stelah di otak-atik, akhir ny saia berhasil menemukan judul yang tepat, hehe
Smoga temen2 setia bwd baca ep ep saia, owke??
Met baca......




Uru membuka matanya, sinar hangat sang mentari menari-nari di wajah manisnya.

“Ah,masa lalu itu lagi..” ujarnya lirih.


Uruha beranjak,duduk di tepi tempat tidurnya. Dia merenung. Perasaannya kacau, hatinya sesak menahan kesedihan. Sakit,mengingat perempuan yang dicintainya. Ia meraih gitar kesayangannya. Memainkannya perlahan. Nada-nada sendu dan pilu mengalun di pagi itu. Bulir-bulir air bening menggenang di mata indahnya. Hari ini adalah tepat 3 tahun kematianku.


Aku memandang Uruha, mendengarkan petikan gitar dari jari-jemarinya. Alunan nada gitar itu tiba-tiba berhenti. Pintu kamarnya terkuak. Ayahnya, Shiroyama berdiri di ambang pintu itu.

“Uru, jangan pernah mainkan gitar itu lagi!” bentak ayahnya

“Kenapa? Kenapa ayah selalu melarang semua yang kusukai? Merenggut semua kebahagiaanku?” Uru bertanya, tak kaah kencangnya.

“Maksudmu?” kata Shiroyama dengan tatapan tajam.

“Kazuha dan gitar ini adalah hal yang paling berharga dalam hidupku.” Kata Uruha

“Sebagai seseorang yang dalam dirinya mengalir darah seorang samurai, seharusnya benda kesayangannya adalah pedang” kata Shiroyama.

“Samurai? Walaupun leluhurku adalah seorang samurai, aku tak peduli.” Ujar Uruha ketus

“Huh, kau memang takkan pernah sekuat aku. Kau terlalu lemah Uruha. Bahkan sedikit saja kau tak mampu mewarisi keahlian yang sangat kubanggakan ini.” Lanjut Shiroyama.

“Cih! Bangga? Setelah ayah mengotori pedang itu dengan darah perempuan yang tak berdosa?” kata Uruha,suaranya meninggi. “Detik ini juga, aku bisa melaporkan ayah pada polisi.” Lanjutnya.

“Coba saja,uang selalu dapat berbicara. Lagi pula berapa harga perempuan yang telah mati di tanganku itu?” Shiroyama tersenyum sinis.


Brakkk,Uruha mendorong ayahnya ke pintu kamarnya, emosinya tersulut begitu mendengar perkataan ayahnya. Ia benci, benci dengan semua ini. Ibunya telah lama meninggalkannya, hingga ia terkurung dalam rumah megah ini bersama kekuasaan dan kekayaan ayahnya sebagai seorang bangsawan yang berdarah dingin. Uruha tak kuasa melawan, apalagi setelah ia meninggalkan upacara pernikahannya dengan perempuan kaya yang dijodohkan oleh ayahnya dan meilih menolongku,yang sangat dibenci oleh ayah Uru. Setiap senyum kejam yang tersungging di bibir ayahnya,seperti menjadi isyarat penderitaan untuknya.

“Anak tak tahu diuntung” kata Shiroyama,murka.


Uru memutuskan untuk keluar. Berlama-lama di rumah hanya akan membuat emosinya makin memuncak. Ia berlari, menerobos pintu demi pintu, tak peduli dengan teriakan ayahnya yang bergema mengikuti langkahnya. Menghiraukan kepalanya yang berdenyut nyeri. Aku sedikit khawatir pada Uru. Beberapa hari ia sakit,aku hampir menangis melihat wajahnya yang pucat, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa.


Langkah Uruha terhenti,rupanya tempat yang ia tuju adalah pusaraku. Seperti biasanya,Uru meletakkan setangkai mawar putih disana. Ia mengusap nisanku.


Aku hanya mampu menatap Uru. Pikiran kami melayang. Menyibak halaman-haaman kisak hidup yang telah terlampaui. Berhenti tepat pada saat aku dan Uruha pertama kali bertemu.

Saat itu salju turun, dingin memelukku erat. Aku terdiam di halte bus, duduk sendirian. Dalam hai, aku mengutuki Kai, teman sekelasku. Ia tak sengaja menumpahkan segelas kopi yang mengenai jaketku. Aku menghela nafas, kesal. Kemudian, seorang lelaki duduk di sampingku. Ya, diaah Uru. Aku menatapnya selama sepersekian detik. Terpesona dengan ketampanannya.


Bus yang kutunggu tak juga datang, aku semakin menggigil kedinginan. Tiba-tiba Uru melepaskan jaketnya, memakaikannya padaku. Aku menoleh.

“Pakailah, aku tak tega melihatmu kedinginan..” katanya.

“Tapi...” kataku.

“Tak apa-apa, aku tak mau kau sampai sakit.” Katanya lembut. “Oh iya.. Namaku Uruha, panggil saja Uru” lanjutnya, sambil mengulurkan tangan.

“Terima kasih Uru. Hmmm,aku Kazuha.” Kataku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum.


Sejak pertemuan itu, kami menjadi akrab. Uru sering menemaniku menanti bus, seusai jam kuliah. Kadang ia mengajakku berjalan-jalan di taman bunga. Memetikkan mawar putih untukku, menghilangkan durinya agar tak mengenai jemariku. Atau menghabiskan waktu di tepi danau. Menanti matahari kembali ke peraduannya. Bercanda, bermandikan cahaya. Ditingkahi celoteh-celoteh Ruki dan Reita, sahabat Uru.


Sampai suatu hari, ayah Uru melihat kami. Tanpa basa-basi, ayahnya menyuruh Uru pulang, menyeretnya seperti anak kecil yang tak bisa dinasehati baik-baik. Aku hanya terdiam, mentapnya tk mengerti.

“ayah Uru memng keras Kazuha...” kata Reita padaku. Ia kemudian menceritakan semua yang diketahuinya tentang kehidupan Uruha.









Sekian, di tunggu komentar ny yaw ^_^
oleh Kazuha Reika 'Rosita'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Godean City, Jogjakarta, Indonesia
Kita tidak akan bisa bila kita tidak mencoba, kayak blogger ini. Awalnya kupikir sulit, tapi setelah dicoba ternyata lumayan mudah dan menyenangkan.